Seminar Nasional Perkembangan Teknologi dan Peraturan Ketenaganukliran di Indonesia

dsc_1237

Kamis tanggal 22 September 2016, bertempat di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, telah terlaksana seminar nasional ketenaganukliran bertema “Perkembangan Teknologi dan Peraturan Ketenaganukliran di Indonesia”. Seminar ini diadakan dengan harapan membuka wawasan warga Indonesia mengenai nuklir. Nuklir yang selama ini sering kali dianggap sebagai senjata, bila digunakan dengan tujuan dan niat yang baik maka teknologi nuklir dapat berguna bagi masyarakat. Oleh karena itu, seminar ini menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidang ketenaganukliran, yaitu; Dr. Yudi Pramono, Direktur Pengaturan Pengawasan Instalasi dan Bahan Nuklir dari BAPETEN dan Dr. Sudi Ariyanto, ketua Pusdiklat dari BATAN.  Dalam seminar ini para narasumber memberikan banyak informasi terbaru mengenai perkembangan ketenaganukliran dan produk yang telah dihasilkan oleh teknologi nuklir.

  1. Perkembangan Peraturan

dsc_1174

Tanpa kita sadari, radiasi dari tenaga nuklir berada dimana saja bahkan terdapat dalam tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia pun terdapat kandungan uranium sebagai dasar dalam pembuatan nuklir. Sehingga tidak perlu takut jika tubuh kita terpapar oleh radiasi nuklir dalam jumlah yang sedikit dikarenakan di dalam tubuh manusia pun juga terdapat kandungan nuklir. Bukan saja di dalam tubuh kita, namun bahan nuklir dan zat radioaktif pun juga terdapat di alam yang disebut radiasi natural yang tentu saja tidak akan memberikan efek negatif pada tubuh.

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) berdiri dengan diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 230 tahun 1954. Pada saat itu dibentuk Panitia Negara untuk melakukan penyelidikan radioaktif dikarenakan Presiden khawatir jika Indonesia bagian Timur terkena dampak dari uji coba bom hidrogen yang dilakukan Amerika Serikat di kepulauan Marshall. Kemudian dibuatlah Dewan Tenaga Atom & Lembaga Tenaga Atom dengan berlakunya PP No. 65 Tahun 1958 dengan bekerja sama dengan IAEA.

Tenaga nuklir di Indonesia dimanfaatkan sebagai Instalasi dan Bahan Nuklir (IBN) dan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif (FRZR). IBN dalam hal ini berupa pembuatan reaktor nuklir dan juga pemanfaatan bahan nuklir. Sedangkan FRZR merupakan penggunaan tenaga nuklir di bidang kesehatan, industri, dll. Sampai saat ini, BAPETEN telah mengeluarkan ijin penggunaan tenaga nuklir sebanyak 4.705di bidang industry, 2.685 di bidang kesehatan dan 37 si bidang IBN.

Dengan banyaknya penggunaan bahan radioaktif, Indonesia merasa perlu untuk mengatur dengan hukum nasional, sehingga diberlakukanlah UU Nomor 31 Tahun 1964 yang kemudian diganti dengan UU Nomor 10 Tahun 1997 (UU Nomor 10 Tahun 1997). Di dalam UU Nomor 10 Tahun 1997 telah dilakukan pemisahan tugas antara BATAN yang melaksanakan litbang dan promosi tenaga nuklir dan BAPETEN yang melaksanakan pengawasan tenaga nuklir Indonesia yang didirikan pada tanggal 8 Mei 1998.

Di dalam UU Nomor 10 Tahun 1997 terdapat beberapa aspek pengawasan yang meliputi aspek keselamatan (Safety), keamanan (Security) dan garda aman (Safeguards). Yang termasuk di dalam keselamatan adalah adanya tindakan yang mencegah terjadinya kecelakaan, kemudian melakukan mitigasi konsekuensi kecelakaan, pencapaian kondisi operasi yang sesuai, dll. Dalam keamanan terdapat beberapa tindakan baik dari segi pencegahan, pendeteksian dan respon yang semuanya dilakukan dengan tujuan untuk menghindari adanya pencurian atau sabotase zat radioaktif dan bahan nuklir. Dari sisi safeguards dilakukan pencegahan adanya tindakan penyalahgunaan bahan nuklir untuk kegiatan non damai seperti pembuatan senjata nuklir.

Dalam pembangunan PLTN sebagaimana direncanakan oleh pemerintah RI, harus memenuhi ketentuan dalam Pasal 17 UU Nomor 10 Tahun 1997 terkait dengan perijinan pemanfaatan tenaga nuklir, pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir dan instalasi nuklir serta dekomisioning reactor nuklir. Untuk mendapatkan perijinan, terdapat 5 tahapan yang harus dilakukan secara bertahap yaitu pertama melakukan tahap tapak, kemudian melewati tahap konstruksi, dilanjutkan dengan tahap komisioning lalu tahap operasi dan terakhir tahap dekomisioning, setelah itu ijin baru dapat diberikan. Persyaratan untuk mendapatkan ijin meliputi kelengkapan administrasi, teknis serta finansial.

Untuk menjamin kestabilan kualitas, maka dilakukan sejumlah pengawasan dalam rangka menjamin penggunaan zat radioaktif dan bahan nuklir. Salah satu bentuk pengawasan yang dilakukan adalah melakukan inspeksi sebagaimana diatur dalam Pasal 10 UU Nomor 10 tahun 1997 serta pemberian sanksi pidana dan denda kepada pelanggar sebagaimana diatur dalam Pasal 41 UU Nomor 10 Tahun 1997.

Untuk mengatur penggungaan zat radioaktif dan bahan nuklir, terdapat berbagai perjanjian international yang digunakan sebagai dasar dalam mengatur pengaturan terkait dengan penggunaan tenaga nuklir serta zat radioaktif dan bahan nuklir di Indonesia. Berbagai perjanjian international ini mengatur lebih rinci tentang 3S. berbagai perjanjian international tersebut antara lain:

  • Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT),
  • Convention on the Physical Protection of Nuclear Material (CPPNM),
  • Convention on Early Notification of a Nuclear Accident (CENNA),
  • Convention on Assistance in The Case of a Nuclear Accident or Radiological Emergency (CANARE),
  • Treaty on the Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ),
  • Convention on Nuclear Safety (CNS),
  • Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty (CTBT) dan
  • International Convention for Suppression of Acts of Nuclear Terrorism (ICSANT)

Tiap konvensi yang disebutkan diatas telah diratifikasi baik dengan menggunakan Undang-Undang, Keputusan Presiden dan Peraturan Presiden.

Saat Korea Utara sedang membuat senjata nuklir yang tentu mengancam dunia dimana Korea Utara sudah siap untuk melakkan serangan nuklir kepada Amerika Serikat dan negara aggressor lainnya. Maka dari itu Asia Tenggara membuat SEANWFZ dan diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1997. Pembuatan treaty ini berdasarkan pada Pasal VII Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT).

Sampai saat ini Indonesia menggunakan batu bara sebagai bahan utama pembangkit tenaga listrik. Faktanya  dengan menggunakan batu bara sebagai bahan utama pembangkit listrik, kesejahteraan masyarakat Indonesia masih belum dapat dipenuhi dan masih sering terjadi pemadaman listrik yang tentunya mengganggu aktifitas dari masyarakat Indonesia. Apalagi persediaan batu bara di Indonesia semakin menipis dan hanya dapat bertahan hingga beberapa puluh tahun lagi. Maka dari itu, dibutuhkan bahan dasar yang dapat menghasilkan energy yang besar serta irit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta dapat melakukan pemerataan penggunaan listrik. Di sinilah peran tenaga nuklir sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan menggunakan tenaga nuklir sebagai pembangkit listrik, maka energy yang dihasilkan pun lebih besar. Dengan menggunakan bahan  nuklir sebanyak 20 gr saja, dapat menghasilkan energy yang setara dengan 2.25 ton batu bara yang menghasilkan energy sebanyak 100 megawatt energy. Maka dari itu dapat dibayangkan kepraktisan dan kemudahan penggunaan tenaga nuklir dibandingkan dengan batu bara. Mengangkut 20 gr tenaga nuklir tentu saja akan lebih mudah dibandingkan mengangkut 2.25 ton batu bara. Tentu saja dengan kelebihan dari tenaga nuklir yang amat sangat baik ini juga terdapat sisi negatifnya, yaitu adanya resiko penyalahgunaan tenaga nuklir.

Indonesia memiliki beberapa Peraturan Pemerintah yang digunakan sebagai penunjang penggunaan tenaga nuklir di Indonesia baik dari segi Safety, Security dan Safeguards. Akan tetapi pengaturan tersebut hanya ada di dalam Peraturan Pemerintah. Di dalam sejumlah PP tersebut juga diatur terkait dengan perijinan yang harus dipenuhi, langkah apa saja yang harus dilakukan sebelum dan selama pengoperasian tenaga nuklir hingga pertanggung jawaban dari pemegang ijin dan sanksi yang akan diberikan kepada pemegang ijin. Bukan saja dari Peraturan Pemerintah yang mengtur tekait dengan ketenaga nukliran tetapi peraturan Kepala BAPETEN juga telah dibuat untuk menunjang pelaksanaan penggunaan tenaga nuklir dan bahan nuklir di Indonesia. Peraturan kepala BAPETEN tentu sudah disesuaikan dengan ketentuan dari IAEA terkait dengan safeguards.

Dilihat dari berbagai pengaturan yang telah diratifikasi dan dibuat oleh Indonesia, dapat dibuktikan bahwa Indonesia telah siap dari segi yuridis untuk menggunakan tenaga nuklir untuk lebih mensejahterakan masyarakat dan Indonesia pun telah siap untuk menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Hanya saja yang menjadi permasalahan adalah masyarakat yang masih belum dapat menerima dan juga bentuk pengaturan yang masih berupa Peraturan Presiden dan juga Peraturan Pemerintah yang seharusnya dibuat dalam bentuk Undang-Undang saja. Cara pikir masyarakat juga perlu diubah, dikarenakan terdapat sugesti bahwa penggunaan tenaga nuklir sebagai pembangkit listrik akan menyebarkan radiasi di negara Indonesia dan akan memberikan dampak negative kepada masyarakat.

  1. Perkembangan Teknologi

dsc_1290

BATAN merupakan lembaga pemerintah non-kementerian dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan juga berkoordinasi dengan Kemenristekdikti. Tugas dari BATAN adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir sesuai ketentuan peraturan dan perundang-udnangan yang berlaku. BATAN disini bertujuan untuk menggunakan nuklir guna kesejahteraan masyarakat.

Sekarang ini nuklir telah digunakan dalam berbagai bidang baik di bidang kesehatan, lingkungan, pangan, air dan energy. Di Indonesia sendiri pemanfaatan nuklir masih belum dapat maksimal yang mana pengelolaan listrik masih sering terjadi pemadaman, pengolahan air yang masih belum baik, keadaan pangan yang belum dapat terpenuhi kebutuhan masyarakatnya, serta keadaan lingkungan dan kesehatan yang tidak baik. Maka dari itu Indonesia perlu bekerja sama dengan negara berkembang lainnya untuk dapat bersaing dengan negara maju dalam mensejahterakan rakyatnya.

Penggunaan IPTEK Nuklir sudah menjadi cita-cita dari Indonesia untuk memajukan masyarakat. Penggunaan nuklir diambil dari inti atom yang tidak stabil dimana untuk menstabilkan antara proton, neutron dan elektronnya maka dilakukanlah pemancaran radiasi. Radiasi inilah yang digunakan oleh peneliti untuk pengembangan IPTEK dengan menggunakan teknologi radiasi. Dari radiasi ini akan memancarkan energi yang digunakan oleh peneliti. Energy merupakan fenomena pembelahan inti atom dikarenakan ketidakstabilan antara proton, neutron an electron di dalam inti atom yang mkemudian memancarkan radiasi dan energy. Energy yang dihasilkan dalam bentuk panas ini kemudian akan digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir.

Sekarang, BATAN sudah melakukan penelitian dalam pengaplikasian nuklir di bidang energy, kesehatan, industry, peternakan, dan pertanian. Di bidang peternakan BATAN telah menemukan pakan ternak sapi agar cepat gemuk serta telah menemukan alat untuk mendeteksi birahi sapi sehingga peluang keberhasilan dalam inseminasi buatan menjadi lebih besar. Di bidang pertanian, BATAN telah menghasilkan 21 varietas padi unggul yang tahan hamma, serta tahan akan kadar garam yang tinggi serta memiliki tingkat produktifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan padi biasanya dan juga tgelah menghasilkan 10 varietas kedelai. Di bidang kesehatan, BATAN sedang mengembangkan alat untuk menghilangkan kanker dengan kejauhan 5 mm

Sebenarnya Indonesia telah menggunakan research reactor nuklir sejak tahun 1965 di Bandung kemudian di tahun 1979 dibuat reactor di Yogyakarta baru kemudian berkembang reactor gamma. Dari tahun 1979 inilah mulai dikembangkan varietas-varietas unggul. Di daerah Serpong telah ada 87 reaktor yang merupakan tempat riset terbesar di belahan bumi selatan dan hal ini merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk dijadikan Mentor Country di Asia Pasific di bidang ketenaganukliran dikarenakan di Serpong ini telah didatangi oleh beberapa peneliti dari luar negeri baik dari Jepang dan Korea Selatan untuk dilakukan studi banding dan diteliti oleh mereka. Dari sisni dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Indonesia telah dapat menggunakan tenaga nuklir untuk tingkat komersialisasi.

Pengaplikasian tenaga nuklir terutama di bidang pertanian menggunakan teknik mutasi radiasi, modifikasi polimer untuk pertanian, nutrisi tanaman (biofertilizer), pengendalian hama tanaman (teknik serangga mandul dimana serangga jantan dibuat mandul), dan bioremediasi.

Teknik mutasi radiasi adalah teknik pembiakan yang bukan merupakan rekayasa gentik tetapi dengan mempercepat mutasi dengan cara diradiasi. Hal ini dikarenakan peradiasian di alam akan berlangsung dengan sangat lama sehingga dipercepat dengan menambah radiasi pada tanaman. Untuk mendapatkan sebuah varietas unggul dibutuhkan waktu 5 tahun hingga varietas unggul tersebut dapat digunakan oleh masyarakat. Dari teknik mutasi radiasi ini telah menghasilkan 21 varietas unggul padi dan 10 varietas unggul kedelai.

Teknik modifikasi olimer untuk pertanian menghasilkan tanaman yang oligochitosan dan super water absorbant. Oligochitosan adalah pengekstrasian polimer alamt dari kulit udang dan diiradiasi gamma tau berkas electron. Oligochitosan berfungsi sebagai promotor pertumbuhan tanaman, mengurangi penyakit tanaman, meningkatkan hasil pertanian dan menjadi elisitor tanaman sebagai contoh adalah cabe keriting yang jika dilakukan radiasi dengan teknik oligochitosan ini akan membuat cabe keriting ini tidak lagi tumbuh keriting tetapi lurus dan besar. Sedangkan untuk Super Water Absorbent (SWA), tanaman tersebut diberikan hydrogel yang dapat menyerapkan dair dan menyimpan air sehingga tidak ada lagi tanaman yang kekurangan air. Kelebihan dari SWA ini adalah memperbaiki karakteristik, meningkatkan hasil pertanian serta mengurangi frekuensi irigasi. Biasanya teknik ini diterapkan pada tanaman bawang merah.

Di bidang kesehatan, radiasi digunakan dalam kedokterran nuklir dna radioterapi, obat (RI dan RF) serta alat kesehatan. BATAN juga sedang membuat metode terapi kanker yang diharapkan dapat menjadi standar ke depannya. Metode terapi ini adalah Boron Neutron Capture Therapy (BNCT) dimana unsur boron ditembakkan dengan neutron dan akan membelah dan mengeluarkan alfa dan litium yang dapat diletakkan di jaringan kanker dan mematikan sel kanker secara local di tempat yang terkena kanker saja.

Di bidang lingkungan radiasi tenaga nuklir ini digunakan untuk mengidentifikasi polutan udara, menganalisa sedimentasi di pantai/sungai dan untuk bioremediasi (radiasi bahan carrier inokulan). BATAN juga sedang mengembangkan biodegradable plastic yang dapat lebih ramah lingkungan dengan mengambil dari limbah tapioka.

Di bidang pengaplikasian energy, Indonesia sedang membuat PLTN dan juga telah membuat energy terbatrukan seperti geothermal dan biodiesel. Untuk PLTN akan menggunakan teknik Pressurized Water Reactor (PWR) dan juga Boiling Water Reactor (BWR).

Selain itu terdapat pemanfaatan RSG-Gas dimana digunakan untuk mewarnai batu topaz dengan cara diiradiasi sehingga menghasilkan batu topaz yang bening.

Dari penjelasan narasumber dapat disimpulkan bahwa walaupun kita tidak dekat dengan bahan nuklir tapi kita tetap terkena radiasi nuklir dari alam. Radiasi alam ini tidak akan memberikan dampak negative dari radiasi tersebut. Indonesia pun telah mengembangkan berbagai penelitian baik dari segi pangan, pertanian, kesehatan dan energy. Ketidak-tahuan masyarakat Indonesia terhadap ketenaganukliran dan kegunaannya menimbulkan rasa takut. Apabila informasi mengenai teknologi nuklir dipublikasikan dengan benar, maka masyarakat akan lebih sering tahu mengenai perkembangan teknologi nuklir dan masyarakat akan belajar mengenai kegunaan dari teknologi tersebut. Maka penggunaan teknologi nuklir akan lebih efektif dan opini masyarakat mengenai teknologi nuklir akan berubah.

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.