Keamanan Nuklir Nasional Antisipasi Terorisme yang Melibatkan Zat Radioaktif

IMG_69051-300x200sumber: http://www.bapeten.go.id/?p=25054

Pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir tidak dapat dilakukan oleh BAPETEN secara maksimal tanpa koordinasi dengan instansi terkait lainnya, karena banyak aspek pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir yang sangat berkaitan dan memerlukan koordinasi serta kerjasama. Oleh karena itu diperlukan suatu forum pertemuan sebagai wahana untuk memberikan dan bertukar informasi mengenai pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir di tanah air dengan melibatkan segenap stakeholders yang ada. Terlebih isu keamanan nuklir saat ini tengah menjadi perhatian dunia internasional, sebagai tindak lanjut dari konsensus bersama dalam Nuclear Security Summit yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Melihat pentingnya hal tersebut, BAPETEN kembali menggelar Konferensi Informasi Pengawasan (Korinwas) yang digelar di Jakarta, Kamis (12/05/16), dengan mengangkat tema “Membangun Sinergi Sistem Keamanan Nuklir Nasional untuk Menghadapi Aksi Kriminal dan Terorisme yang Melibatkan Zat Radioaktif dan Bahan Nuklir.” Tema ini diangkat terkait dengan arahan Presiden RI mengenai perlunya pemasangan Radiation Portal Monitor (RPM) di pelabuhan laut, bandar udara internasional serta pos lintas batas negara, dalam rangka pengawasan dan pencegahan zat radioaktif masuk dan keluar wilayah Indonesia secara ilegal.

Melalui sambutannya Kepala BAPETEN Jazi Eko Istiyanto mengatakan, keamanan nuklir nasional merupakan upaya dari Pemerintah Indonesia khususnya BAPETEN, untuk menjaga keamanan negara ini dari ancaman penyalahgunaan zat radioaktif atau bahan nuklir untuk tujuan non damai, khususnya penggunaan yang melanggar peraturan ketenaganukliran.

Kepala BAPETEN menambahkan, penyalahgunaan zat radioaktif atau bahan nuklir untuk tindak terorisme atau menggunakan bom kotor, terus kita pantau dan cegah dengan cara melakukan tindakan pencegahan, seperti koordinasi dengan lembaga terkait yang perlu ditingkatkan secara terus menerus dan intensif, penguatan infrastruktur keamanan nuklir, serta peningkatan sumber daya manusia guna menundukung program keamanan nuklir.

“Pemasangan peralatan pemantau radiasi terhadap barang yang masuk ke wilayah NKRI juga perlu ditingkatkan, sesuai dengan komitmen Indonesia selaku anggota IAEA untuk turut berperan aktif dalam menjaga keamanan nuklir global dengan cara meningkatkan keamanan nuklir nasional di negara kita,” ujar Jazi.

Sementara itu Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dalam arahannya mengungkapkan, isu dan ancaman terorisme, kriminalitas yang melibatkan material zat radioaktif atau bahan nuklir, harus menjadi perhatian bersama. Fakta menunjukkan eskalasi dan jenis tindakan sabotase, terorisme atau kriminal dapat kita lihat dan rasakan dampaknya meskipun itu bersifat konvensional non radiologi.

“Bayangkan jika mereka menggunakan zat radioaktif atau bahan nuklir. Tantangan terkini tersebut harus diwaspadai, diawasi dan dihadapi dengan cermat dan seksama oleh semua pihak, ini tugas besar mengingat luasnya wilayah dan letak strategis NKRI. Tugas besar keamanan nuklir ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegas Nasir.

Nasir menambahkan, tugas penting ini membutuhkan koordinasi, kolaborasi dan sinergi yang terintegrasi dan terpadu antar semua pemangku kepentingan lintas kementerian dan kelembagaan, baik di tingkat daerah, nasional, regional, serta dunia internasional.

Pada acara ini Kepala BAPETEN juga menyerahkan izin X-ray secara simbolis, RPM, dan RDMS untuk lingkungan Istana Negara, serta penyerahan penghargaan BAPETEN Safety and Security Award (BSSA) kepada sejumlah pemegang izin. Apresiasi ini diberikan bagi pengguna bidang medis dan industri yang dinilai telah melakukan aspek keselamatan dan keamanan pemanfaatan tenaga nuklir dengan baik.[BHO/PD]

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.