Keamanan Dalam Pengangkutan Nuklir

Disusun Oleh: Eugenio Gigih W. S (031211132108) | Fakultas Hukum, Universitas Airlangga, Surabaya

EugenioGigih@gmail.com

Latar Belakang

Saat ini tenaga nuklir banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari. Terutama mayoritas penggunaan energi nuklir adalah pada bidang energi dan kesehatan. Dalam bidang kesehatan, jumlah nuklir yang digunakan relatif kecil, dan apabila ada malfungsi alat, dampak yang ditimbulkan tidak terlalu luas. Lain halnya dengan bidang energi. Jumlah nuklir yang digunakan jauh lebih banyak dan lebih berbahaya apabila terjadi malfungsi dalam alatnya. Preseden dari kegagalan reaktor nuklir yang menyebabkan bencana sangat besar ada pada pembangkit listrik di Chernobyl. Dampak dari insiden ini menyebabkan kota yang dekat dengan pembangkit tersebut, Pripyat tidak dapat dihuni sampai ratusan tahun. Untuk mencegah hal ini terulang kembali, IAEA sebagai badan tenaga nuklir dunia telah membuat safeguard, dan di Indonesia, pengamanan telah diatur dalam Undang – Undang No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Akan tetapi selain penggunaan tenaga nuklir, hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah pengiriman bahan nuklir, sebab risiko dalam pengiriman bahan nuklir juga tergolong besar. Selain itu, nuklir adalah benda yang sangat sensitif, baik untuk dampak positif maupun negatif.

Isu/Permasalahan

  • Apa yang membedakan nuklir dengan benda lain?
  • Apa saja yang diperlukan dalam pengiriman/pemindahan nuklir?
  • Bagaimana pengaturan mengenai pengangkutan nuklir di Indonesia?

Pembahasan

Tenaga nuklir adalah tenaga yang berasal dari inti atom yang dapat menghasilkan tenaga sangat besar. Tenaga nuklir ini dapat berguna untuk kehidupan manusia dalam bidang kesehatan, seperti penggunaan untuk rontgen, X-ray, kemoterapi, dan lain sebagainya. Namun tenaga nuklir ini dapat pula merugikan dan menjadi senjata yang sangat mematikan, seperti pada peristiwa pengeboman di kota Hiroshima dan Nagasaki. Namun, kerusakan yang ditimbulkan bukan hanya kerusakan langsung pada saat ledakan, tetapi pada pasca ledakan juga ada radiasi dari bom nuklir tersebut yang dipancarkan selama bertahun – tahun dan mengganggu ekosistem serta menyebabkan penyakit yang disebabkan dari mutasi gen manusia yang tinggal di dalam area radiasi nuklir tersebut.

Dalam pengangkutan barang, apabila barang yang diangkut bukan nuklir, maka apabila terjadi kecelakaan atau hal lain di luar yang dikehendaki maka kerusakan yang ditimbulkan hanya kerusakan langsung yang berdampak pada barang tersebut atau benda lain di sekitar area kejadian. Namun apabila barang yang diangkut adalah nuklir, maka risiko yang ditimbulkan menjadi sangat besar, seperti kemungkinan nuklir tersebut meledak, mengganggu ekosistem, bahkan ada kemungkinan menyebabkan mutasi genetis bagi makhluk hidup di sekitar tempat kejadian tersebut. Belum lagi nuklir membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai sampai dianggap aman. Selain itu, karena potensinya yang sangat besar baik positif dan negatif, maka ada kemungkinan nuklir tersebut kemudian dibajak untuk kemudian digunakan dengan tujuan yang merugikan.

Mengenai pengiriman nuklir, wadah penyimpanan nuklir sangat vital, sebab nuklir adalah benda yang sangat reaktif, jauh lebih reaktif jauh lebih reaktif dari bahan bakar minyak ataupun batubara, oleh sebab itu tempat penyimpanan khusus sangat diperlukan. Untuk masalah keamanan, badan energi atom dunia, IAEA (International Atomic Energy Agency) telah membuat beberapa standar mengenai pengemasan dalam pengiriman nuklir. Dalam standarnya IAEA mensyaratkan bahwa kemasan ini harus dapat menahan pengaruh dari percepatan, getaran, atau resonansi getaran yang mungkin muncul dalam kejadian sehari – hari, tanpa mengalami kerusakan atau pengurangan efektivitas dari kemasan tersebut dalam berbagai wadah, untuk mur, baut, dan alat pengaman lain harus dedesain untuk menghindari kemasan menjadi longgar atau terlepas, bahkan setelah pemakaian berulang.[1] Dari persyaratan IAEA tersebut dapat dilihat bahwa dalam pengangkutan nuklir dibutuhkan kemasan dan alat pengaman yang memiliki spesifikasi yang sangat tinggi. Namun tidak ada aturan dalam IAEA mengenai pengamanan dari pembajakan ketika pengiriman bahan nuklir. Pengamanan tersebut menjadi hal penting sebab nuklir memiliki potensi yang sangat besar baik dalam hal negatif maupun positif. Dan dikarenakan potensinya yang besar itu, maka akan banyak kalangan terutama kalangan yang tidak bertanggung jawab yang menginginkan keuntungan baik secara langsung maupun tidak langsung dari pencurian nuklir tersebut.[2] Untuk menghindari pembajakan, beberapa upaya dapat dilakukan seperti pengawalan, pemilihan rute yang tidak biasa, hingga penggunaan iring – iringan palsu.

Aturan yang berkaitan dengan keselamatan pengangkutan nuklir di Indonesia diatur dalam PP No. 26 Tahun 2002. PP ini mengatur beberapa hal seperti perizinan, kewajiban dan tanggung jawab pengirim, pembungkusan, dan lain – lain. Mengenai bungkusan hanya diberikan kewenangan kepada Badan Pengawas untuk menguji bungkusan tersebut, akan tetapi tidak dijelaskan standar baku yang harus dipenuhi oleh setiap bungkusan sebagaimana aturan IAEA, seluruh penilaian mengenai layak atau tidaknya suatu bungkusan ditentukan oleh Badan Pengawas, namun tidak diatur pula standar apa yang akan digunakan oleh Badan Pengawas untuk menilai bungkusan tersebut. Dan dalam PP tersebut juga tidak mengatur mengenai pengamanan ketika berlangsung pengangkutan, dan mengingat adanya wacana pemerintah mengenai pembangunan PLTU tenaga nuklir, maka dapat dipastikan lalu lintas pengangkutan nuklir akan meningkat di masa depan, sehingga urgensi dari ada aturan yang lebih jelas mengenai pengiriman ini dirasa perlu untuk dipertimbangkan.

Kesimpulan dan Saran

Nuklir adalah sumber energy yang memiliki potensi yang sangat besar baik itu menguntungkan maupun merugikan, sifat dari nuklir yang demikian membedakan nuklir dengan barang lain terutama dalam pengangkutannya. Dan dengan wacana pemerintah ke depannya untuk membuat PLTU tenaga nuklir, maka perlu ada pemutakhiran dalam aturan yang sudah ada agar lebih ketat untuk lebih menjamin keselamatan dari nuklir tersebut ketika terjadi kecelakaan atau kejadian lainnya yang tidak diinginkan.

Referensi:

Paragraph 613 Regulations for the Safe Transport of Radioactive Material 2012 Edition

Alex Chitty, “Nuclear Hijacking Is More Common Than You Think” diakses dari http://www.vice.com/read/the-theft-of-nuclear-material-is-more-common-than-you-think diakses tanggal 30 Oktober 2015

 

 

 

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.